Ngos-ngosan Nanjak Makam Papan Tinggi, Makam 7 Meter Kota Barus

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi dan matahari sudah mulai meninggi ketika kami meninggalkan rumah menuju Kota Barus. Sebenarnya hari sudah terlalu siang, karena perjalanan menuju Kota Barus menempuh waktu sekitar 2,5 jam menggunakan kendaraan pribadi roda empat. Bisa-bisa kami tidak dapat menikmati semua objek wisata di kota Barus.

Jalan menuju kota Barus cukup bagus dan beberapa diantaranya bahkan beraspal hitam mulus. Berbanding terbalik dengan jalan-jalan di kota lain di kabupaten Tapanuli Tengah, di tempat saya misalnya. Apa mungkin karena kota Barus merupakan kota kelahiran dari Bupati Tapanuli Tengah terdahulu yang kini mendekam di tahanan KPK? Entahlah. Hal semacam itu memang lumrah di negeri ini.

Kota Barus memiliki beberapa objek wisata berupa peninggalan makam-makam tua penyebar agama Islam dan beberapa pantai. Tapanuli tengah merupakan kabupaten yang terletak di pesisir Pantai Barat Pulau Sumatera yang memiliki garis pantai 200 kilometer terbentang dari kota Lumut di selatan hingga Kota Manduamas ke utara.

Benar saja, kami tiba di Kota Barus pukul 12 siang saat matahari tepat berada diatas, lebih cepat dari biasanya karena jalan memang cukup lengang. Si supir kami, yang kebetulan saya sendiri, kemudian membelokkan dan memberhentikan mobilnya disebuah rumah makan untuk beristirahat sejenak.

Rumah makan sederhana ini rekomendasi bapak saya sendiri. Rumah makan ini memang menjadi langganannya saat dulu bertugas di Kota barus. Saya ingat dulu pernah diajak makan  kesini. Letaknya berada di kiri jalan dekat pertigaan dan tak jauh dari gapura selamat datang Kota Barus. Tak salah memang, sajian rumah makan itu yang kebanyakan variasi dari olahan laut seperti ikan, memang enak-enak. “Maknyuus”, kalau kata pak Bondan.

Perut terisi penuh dan diiringi alunan angin sepoi-sepoi khas pantai pesisir seolah menggoda iman untuk melanjutkan leyeh-leyeh lebih lama lagi. Perjalanan harus kami lanjutkan lagi dengan tujuan pertama adalah Makam Papan Tinggi, yaitu komplek pemakaman tua Syeikh Mahmud Barus.




Masyarakat kota Barus biasa menyebutnya Makam Papan Tinggi karena lokasi makamnya berada diatas bukit. Menurut pemilik rumah makan, lokasi makam Papan Tinggi ini tak jauh dari tempat kami berada saat itu. Tapi tetap saja kami melewati area pintu masuk karena petunjuk yang ada tidak terlalu kelihatan, salah satu ‘penyakit’ objek-objek wisata di Indonesia (saya pikir).

Mobil tidak dapat memasuki area pemakaman. Kami menitipkan mobil dipekarangan rumah seorang ibu paruh baya empunya warung yang sedang asik menjemur gabah padi. Dari sana kami berjalan menyusuri rumah-rumah penduduk berteduhkan rindang pepohonan yang tenang.

“Permisi pak!”, sapa saya kepada seorang bapak tua yang disahut dengan sebuah senyuman. Menyapa masyarakat lokal adalah hal mudah yang bisa kita lakukan ketika berada dikampung orang alih-alih menunjukkan sikap arogansi berlebihan.

Persis didepan sebuah warung seorang ibu meminta tiket masuk sebesar dua ribu rupiah per orang dan meminta kami mengisi daftar pengunjung.

Untuk mencapai puncak makam Papan Tinggi, kita harus menaiki anak tangga sekitar 710 anak tangga (katanya). Ada yang bilang 744 anak tangga, tapi tak ada yang pasti. Mungkin yang menghitung sudah keburu pusing saking tingginya anak tangga yang akan dipanjat. Saya sendiri ogah. Membawa badan gempal gentong ini saja sudah susah payah, apalagi kalau harus menghitung anak tangga juga.

Penanjakan Makam Papan Tinggi
Nanjak makam Papan Tinggi Barus

Belum ada setengah perjalanan, keringat saya sudah bercucur deras menambah nikmatnya bau badan macam iklan-iklan di tivi itu. Saya sudah ngos-ngosan kelelahan. Objek wisata rohani bagi umat islam ini benar-benar diluar ekspektasi saya (tingginya).

“Kita salah nih, siang-siang habis makan terus manjat bukit begini!!”, teriak saya bernada alibi kepada adik-adik saya sambil istirahat di perhentian pertama.

Penanjakan Makam Papan Tinggi Barus
Isoma dulu ya kita gaes (alibiii)

Naik lagi, semakin tinggi badan rasanya semakin berat saja. Kaki saya seperti sudah karatan saja menempuh jalur ini. Untungnya, selain sebagai supir, saya juga punya side job untuk dokumentasi. Jadi bisa lebih banyak istirahatnya. Benar-benar alibi banget hari itu.

“Aku terakhir mendaki gunung Mahameru itu di tahun 2012, setelah itu udah ga naik gunung lagi kan?”, kataku masih bernada alibi yang kerap ketinggalan diurutan buncit pendakian. Sebagai alumni pendaki Mahameru (gagal), dibukit ini pun saya semakin memantapkan diri sebagai pendaki gagal. Duh!!

Tiba di pintu makam, kita harus melepaskan alas kaki terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan. Hal istimewa dari makam seluas 200 meter persegi ini adalah makam Syeikh Mahmud Barus itu sendiri yang memiliki panjang sekitar 7 meter dan tinggi batu nisan sekitar 1,5 meter.

Makam Papan Tinggi Barus
Dibelakang makam Syeikh sepanjang 7 meter
Wisata Makam Papan Tinggi
Kondisi makam papan Tinggi, nisannya setinggi 1.5 meter
Makam Papan Tinggi
Ada makam lain juga disini

Dari atas makam ini kita bisa lihat pemandangan perbukitan dan pantai sejauh 360 derajat. Anginnya pun sepoi-sepoi, boi.

View Makam Papan Tinggi
Pemandangan 360 derajat dari atas makam Papan Tinggi Barus

Tips:

  • Sebaiknya hindari jam-jam matahari terik, meski diiming-imingi diskon 70%.
  • Bawa persediaan minum yang cukup.

Baca juga: Tulisan lainnya tentang Sumatera Utara



About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

24 Responses
  1. Hehehehe… Capeknya udh pasti bikin kaki kaku seminggu ke depan ya mas 😀

    Kampungku di Sibolga, dan aku baru sekali seumur2 ke Barus..itupun cuma bntar -__-. Yg diinget cuma…. kita wkt itu main ke pantainya, yg aku lupa namanya apa 😀 Mungkin kalo thn ini jd lebaran di Sibolga, bakal mampir lg ke Barus 🙂

Leave a Reply