Susahnya Bertemu Bekantan Liar, Hewan Khas Kalimantan di Pulau Kaget

Pagi itu, masih di Banjarmasin, dan seperti rutinitas biasa dalam road trip Kalimantan ini—menyantap sarapan pagi dan briefing singkat—saya dan rombongan Terios 7 Wonders yang lainnya kemudian melanjutkan perjalanan kembali melihat “wonders” berikutnya, yaitu Bekantan, salah satu hewan endemik khas Kalimantan.

Begitulah memang aktivitas kami selama 11 hari menjelajah Kalimantan dalam road trip Terios 7 Wonders—”Borneo Wild Adventure”. Masuk hotel tengah malam, hanya untuk istirahat, nge-charge peralatan, paginya keluar lagi dan menghabiskan waktu di jalan mengunjungi tempat-tempat menarik sepanjang perjalanan.

Jarak dari hotel kami di Kota Banjarmasin menuju Desa Aluh-aluh tak kurang dari satu jam perjalanan saja. Desa Aluh-aluh, sebuah desa yang berada di pinggiran Sungai Barito, menjadi titik keberangkatan kami selanjutnya menggunakan perahu motor (klotok) menuju Pulau Kaget selama kurang lebih 20 menit.

Nah, di Pulau Kaget inilah kita bisa menjumpai hewan Bekantan yang hidup liar (arboreal).

BTW, teman-teman pasti sudah pada mengenal hewan Bekantan ini, kan?

Bekantan atau nama kerennya Nasalis Larvatus ini merupakan salah satu hewan endemik atau hewan khas Kalimantan. Hewan Bekantan ini salah satu jenis monyet yang memiliki hidung khas yang panjang. Kalau orang Jakarta yang pernah main ke Dufan Ancol, pasti bakal mengenal hewan ini, deh, karena dijadikan sebagai logo dan maskot taman bermain itu.

Primata ini biasanya hidup liar dan berkeliaran tak jauh dari sungai-sungai, hutan bakau pesisir, dan rawa-rawa pulau. Hewan Bekantan sendiri mempunyai dua subspesies, yaitu Nasalis Larvatus Larvatus dan Nasalis Larvatus Orientalis. Nah, Bekantan yang kami temui di Pulau Kaget ini merupakan subspesies Nasalis Larvatus Larvatus yang hidup hampir di seluruh bagian Kalimantan. Sementara saudaranya, Nasalis Larvatus Orientalis hanya hidup di bagian Timur Laut Kalimantan, seperti Tarakan.

Tiba di Pulau Kaget Banjarmasin
Tiba di Pulau Kaget

Begitu tiba di Pulau Kaget—berada di tengah Sungai Barito—perahu motor yang membawa kami pun berhenti perlahan-lahan dan mendekat ke pinggir pulau. Perahu tak bisa benar-benar merapat ke pinggir pulau karena ditumbuhi dengan tanaman bakau hampir di sekeliling pulau.

Masih di atas perahu motor, kami semua pun kompak menengok ke sebelah kanan dari datangnya perahu dan berusaha mencari keberadaan monyet Bekantan tersebut. Cukup lama sebenarnya kami mencari karena posisi perahu cukup jauh untuk melihat keberadaan monyet besar tersebut.

Salah seorang teman blogger kemudian berteriak kecil sambil menunjukkan keberadaan seekor Bekantan yang sedang duduk manis di atas pohon. Ternyata tak hanya hewan Bekantan saja, terdapat pula monyet-monyet ‘biasa’ yang berkeliaran di sana.

Hewan Bekantan khas Kalimantan
Bekantan yang lucu. (Photo by @wiranurmansyah)

Karena begitu penasaran untuk melihat lebih dekat lagi, beberapa rekan blogger termasuk saya kemudian berusaha untuk menginjakkan kaki di Pulau Kaget ini meski harus bersusah payah dulu melewati lumpur rawa.

Kalau menghadapi jalan bergelombang selama road trip, sih, kami sudah biasa dan tak khawatir karena mengendarai mobil New Daihatsu Terios yang tangguh. Lah, ini lumpur rawa.

Begitu turun dari atas perahu, kaki langsung menancap cukup dalam hingga diatas lutut dan agak susah ditarik. Sehingga membuat langkah kami menjadi cukup sulit menjangkau daratan.

Berjalan selangkah demi selangkah. Kami harus pintar-pintar mencari tanah yang sudah agak mengeras atau akar-akar tanaman yang sudah mati sebagai pijakan agar tidak terlalu terjerembab. Kami harus cepat-cepat sampai di daratan karena hari sudah mulai siang, monyet-monyet Bekantan mulai masuk lebih jauh ke dalam pulau. Dan benar saja, begitu kami tiba, monyet Bekantannya sudah lari masuk ke dalam.

Meski tak melihat adanya segerombolan monyet Bekantan, saya sendiri cukup puas sudah bisa melihat secara langsung hewan endemik yang menjadi khas Kalimantan ini. Keberadaan Bekantan saat ini telah dilindungi dari perburuan ataupun penangkapan karena Bekantan termasuk spesies yang terancam punah.

Pulang menuju Desa Aluh-Aluh menggunakan perahu motor ternyata memakan waktu lebih lama karena harus memutar agak jauh dan harus melawan arus sungai Barito. Tak sabar rasanya melanjutkan perjalanan lagi melihat keunikan lain di Pulau Kalimantan ini, salah satunya adalah Bunga Anggrek Hitam, di Desa Malutu, sekitar 4.5 jam perjalanan.

***

Perjalanan mencari Bunga Anggrek Hitam khas Kalimantan ini merupakan rangkaian perjalanan Road Trip di Kalimantan bersama Terios 7 Wonders “Borneo Wild Adventure”.

About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

Related Posts

4 Responses

Leave a Reply