Kilim Geoforest Park, Melihat Ratusan Elang dan Monyet Berenang

Masuknya Pulau Langkawi dalam itinerary menjadi alasan utama saya mengiyakan undangan Resort World Genting beberapa waktu silam. Ibarat ‘mestakung’, semesta mendukung keinginan saya untuk kembali ke Langkawi lagi terwujud.

‘Makasih, Kung! I love you. Next eropah, ya!’

Senang rasanya bisa kembali lagi ke Langkawi.

Terakhir kali liburan ke Langkawi itu waktu jaman backpackeran tahun 2013 lalu. Itu pun cukup singkat, hanya satu malam saja sebelum lanjut lagi ke Penang.

 

Mengunjungi Kilim Geoforest Park

Sekitar pukul delapan pagi waktu Malaysia, saya dan teman-teman Travel Blogger tiba di pelataran parkir kawasan Mangrove Park. Hari itu rencananya kami akan berkeliling menyusuri sungai hutan bakau yang disebut Kilim Geoforest Park. Kawasan ini sebenarnya luas sekali dan banyak spot-spot yang menarik yang bisa dikunjungi.

Kilim Geoforest Park Langkawi
Kilim Geoforest Park, Langkawi

 

Dangli Spot (not recommended)

Sebelum menjelajah kawasan Kilim Geoforest Park, terlebih dahulu kami dibawa menuju arah laut lepas. Ceritanya di spot ini kita bisa melihat air laut yang jernih dengan ikan warna-warni yang banyak. Well, anak pantai dari Indonesia yang tinggal di Bali melihat beginian. Okay, skip! No offense, yes!

Nah, menurut saya, tempat ini ga rekomen. Kamu bisa minta langsung untuk mulai menyusuri Kilim Geoforest Park saja.

 

Monyet-monyet berenang

Kami balik lagi ke area dermaga, tempat meeting point saat pertama berangkat tadi menyusuri sungai hutan bakau di kedua sisinya. Pemandangan menyusuri sungai ini benar-benar menarik dan tak membosankan. Melihat tebing-tebing bukit yang menjulang tinggi, bahkan ada yang mirip dengan seperti king kong raksasa.

Mangrove Kilim Geoforest Park Langkawi
Sungai Mangrove di Kilim Geoforest Park Langkawi

Guide kami kemudian melambatkan kecepatan perahu dan perlahan mendekat ke area pinggir hutan bakau.

“Itu dia monyetnya”, ujar pemandu kami sambil menunjuk seekor monyet yang sedang berdiri di pinggir hutan bakau.

Pemandu itu kemudian melemparkan makanan ke sungai. Tak ayal si monyet ini kemudian melompat nyebur langsung ke sungai untuk mengambil makanan. Aktivitas kami ini kemudian menarik monyet-monyet lainnya berdatangan. Bahkan ada yang berenang dan naik ke atas perahu.

Saya sendiri sempat agak was-was begitu beberapa monyet naik ke atas perahu. Khawatir monyet-monyet ini agresif seperti yang saya temui di Bali. Ternyata mereka hanya tertarik dengan makanan saja.

 

Eagle Point

Nah, diantara semua spot yang kamu kunjungi di Kilim Geoforest Park, eagle point-lah yang paling menarik. Dari kejauhan kami sudah melihat beberapa elang yang terbang kesana kemari. Kemudian jumlahnya semakin bertambah. Mungkin puluhan atau bahkan ratusan.

Seolah tak terganggu dengan kedatangan kami dan beberapa grup wisata, elang-elang ini terbang kesana kemari, mengitari perahu kami atau menukik tajam ke arah sungai menyambar ikan. Pemandangan yang benar-benar menarik.

Elang di Kilim Geoforest Park
Elang-elang di Kilim Geoforest
Eagle Point Kilim Geoforest Park

Katanya, asal mula nama Langkawi berasal dari tempat ini. Langkawi terdiri atas suku kata ‘Lang’ yang berarti elang, dan ‘Kawi’ yang berarti coklat. Melihat habitatnya yang banyak banget disini, mungkin menjadi salah satu alasan.

Cerita lainnya, sejarah Langkawi yang pernah saya baca dan dengar dari orang lokal, nama Langkawi berasal dari seorang putri bernama ‘Langkawi Matsuri’. Singkat cerita si putri dituduh selingkuh oleh istri tua hingga dihukum mati dan Langkawi dikutuk hingga 7 turunan. Masyarakat setempat pun banyak percaya kehidupan  di Langkawi berangsur pulih setelah generasi ke-8 lahir. Ngonooo…!

 

Crocodile Cave, seriously?

Bayangan saya saat mendengar kami akan mengunjungi Crocodile Cave adalah tempat ini dipenuhi dengan buaya yang tinggal di gua. Hmm… emang ada yaaa… buaya yang tinggal di gua?

Sehabis menyusuri sungai hutan bakau yang lebih kecil, kami tiba di sebuah gua yang hanya bisa dilalui dengan perahu. Perahu harus maju dengan perlahan hingga keluar sisi satunya lagi. Sungguh, beneran saya penasaran karena namanya. Kayaknya menarik banget. Nyatanya kami tak menemukan satupun buaya disini. Penasaran saya kemudian berujung pada pertanyaan, kenapa disebut ‘crocodile cave’?

“Itu dia buayanya”, sambil menunjuk bentukan tebing mirip buaya.

Saya hanya bisa mengernyitkan kening dan ngomong dalam hati, “mirip darimana bambang?!” *kemudian—uring—uringan

***

Yacht di Kilim Geoforest Park

Setelahnya kami mampir di sebuah penangkaran ikan, saya lupa namanya. Di sekitar sini banyak juga yacht yang sedang parkir. Sebelum menyelesaikan trip, kami dibawa dulu untuk makan siang di sebuah restoran apung sederhana. Walau begitu, makanannya cukup enak disantap.

About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

Related Posts

Leave a Reply