Menyesap Mentari Pagi di Tegalalang, Menanti Senja di Campuhan Ridge Walk

“Bang, aku mau lihat sunrise di Tegalalang!”, ucap Satya dalam obrolan kami malam itu.

Hmm… Saya agak mengernyitkan kening saat Satya menyebutkan nama Tegalalang waktu itu. Tak lain disebabkan karena begitu mainstream-nya tempat ini. Walau saya tinggal di Ubud yang berjarak hanya 20 menitan mengendarai motor, saya termasuk sering menolak ajakan pergi ke sini. Selama di Ubud, bisa dihitung jari mengunjungi Tegalalang. Pun kalau saya diajak pergi, rasanya males banget, atau hanya sekedar jalan-jalan sore mengajak kedua anjing, Bejo dan Goreng, menyeruput kelapa hingga sore.

Matahari belum tampak, hanya semburat cahaya saja yang terlihat di ufuk timur. Udara Ubud pagi itu benar-benar segar tapi dingin menusuk. Dengan mengendarai 3 motor, Satya, Shu, Deva, Echi dan Saya, kemudian berangkat dari menuju Tegalalang sekitar pukul 5:30.

Saya membawa keempat teman saya masuk ke area persawahan di Tegalalang lewat belakang bukan dari depan. Terdapat jalan kecil yang biasanya kami lalui kalau ke Tegalalang. Karena jarang kesini, saya tak tahu persis dimana spot-spot para instagrammer mengambil fotonya. Itulah tujuan kita, hahaha… #demikonten

instagrammer di tegalalang rice terrace
#DemiKonten gaes

Lokasinya ternyata di ujung banget. Pagi itu, tak banyak pengunjung yang datang. Matahari sudah mulai naik, namun hampir semua jalan ke pematang sawah tertutup oleh pagar bambu. Kami cukup bingung untuk menerobos masuk. Sempat muter-muter kesana kemari untuk mencari celah, ternyata tak ada satu pun jalan masuk.

Ternyata pagar bambu ini dibuat sendiri oleh Pak Wayan, yang kami duga adalah pemilik sawah. Ia akan membuka pagar bambu dan mengijinkan kami masuk jika bersedia membayar sumbangan sukarela, uang rokok-lah katanya. Setelah kami berjanji untuk mampir di warungnya dan memberikan sumbangan, kami pun diijinkan masuk.

Mari puaskan dahaga untuk mengambil foto!

Kalau boleh saya bilang, Pak Wayan ini termasuk mata duitan (ini pendapat saya pribadi). Ia kerap mengawasi pengunjung yang ingin memasuki areal persawahan dari atas warungnya. Tak jarang kami mendengar teriakannya yang menghardik orang-orang yang ingin menerobos masuk.

Sering pula saya melihat adegan Ia meminta bayaran lebih kepada pengunjung.

“More… more.. Pay more…!”, begitu ucapnya.

Pun kami tak luput diminta membayar lebih. Kami membayar sebesar Rp 100.000,- untuk air kelapa muda dan sumbangan telah diijinkan masuk ke areal persawahan. Pak Wayan meminta kami untuk membayar seikhlasnya karena menurutnya kami baik dan asik. Kami menghabiskan sekitar sejam di warungnya untuk istirahat dan bercanda dengannya. Setelah membayar, ia mencoba untuk bernego agar kami bersedia membayar lebih.

Saya tak menyalahkannya. Mungkin ia tidak mendapat bagian yang cukup dari tiket masuk Rp 10.000,- apalagi Tegalalang ini sudah menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi orang.

Baca juga: Rekomendasi tempat wisata di Bali versi virustraveling, semuanya instagramable

 

 

Makan Siang di Kedai D’Sawah

Ternyata cukup lama juga kami menghabiskan waktu di warung Pak Wayan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, orang-orang semakin ramai berdatangan. Belum sedikit pun makanan yang masuk ke perut kami, hanya 2 butir kelapa muda untuk melepas haus.

Saya kemudian mengajak teman-teman ke tempat makan favorit saya di Ubud, namanya Kedai D’Sawah. Tempat ini sudah menjadi favorit saya sejak tinggal di Ubud. Saya bisa menghabiskan waktu seharian dari pagi hingga sore menjelang hanya untuk males-malesan disini atau sambil kerja. Makan, tidur, lapar pesan makanan lagi, santai-santai lagi. Begitu seterusnya.

Kedai D’sawah ini memiliki pemandangan hamparan sawah yang luas. Ditambah angin yang berhembus sepoi-sepoi seolah menghipnotis kita untuk berlama-lama disana. Nah, selain itu, harga makanannya pun murah-meriah dan rasanya enak. Dimana coba di Ubud bisa mendapat makanan yang murah, enak, plus pemandangan yang memanjakan mata. Teman-teman yang saya ajak kesini pun mengungkapkan hal yang sama.

Dari tiba di lokasi sekitar pukul 11 siang, makan dan bersantai-santai, kami baru beranjak sekitar pukul 3 sore dari sana. Empat jam total kami habiskan hanya untuk bermalas-malasan.

Seminggu setelah kedatangan Satya dan teman-teman, saya mengajak Ci Debb dan Moniq kesana. Eh, mereka sih yang pengen kesana. Jadi kami sekalian meet up dan makan siang disana, deh.

Makan siang di Kedai D'Sawah
Makan siang bareng Ci Debb, Bang Ocit di Kedai D’Sawah

Kedai D’Sawah
Jl. Raya Goa Gajah, Ubud, Gianyar.
Buka dari jam 11:00-23:00
Lokasi di Google Maps

Note:
Kedai D’Sawah ini sedang berbenah mempercantik diri. Semoga saja, harga-harga makanannya tidak berimbas ikutan naik.

 

Menanti Senja di Campuhan Ridge Walk

Well, Campuhan Ridge Walk ini sama persis dengan Tegalalang, spot mainstream lainnya di Ubud. Tiap sore tempat ini penuh dengan orang-orang yang lalu lalang. Mulai dari yang olahraga, jalan-jalan sore, atau banyak juga yang melakukan foto pre-wedding disini.

Saking ramainya orang-orang lalu lalang di Campuhan Ridge Walk ini, agak susah untuk mengambil foto (ga bocor) dengan latar belakang pohon yang terkenal itu.

Kami tak mau berlama-lama disana. Gigitan nyamuk ganas jugalah yang membuat kami cepat-cepat menyudahi waktu di Campuhan Ridge Walk. Walau begitu, sore itu kami mendapat semburat senja yang cantik.

Lokasi Campuhan Ridge Walk di Google Maps

***

BTW, kalau kamu pengen trip satu harian yang super malas di Ubud, trip kita ini bisa banget kamu pakai, lho. Monggo waktu diatur sendiri enaknya gimana!

  • Mencari sunrise di Tegalalang, start dari pukul 5:30
  • Kalau kamu cuma sebentar di Tegalalang, bisa memilih untuk menghabiskan waktu ke air terjun Tegenungan (sekitaran Ubud) atau ke air terjun Goa Rang Reng (agak jauh)
  • Siangnya, makan siang di warung favorit saya, Kedai D’Sawah. Hati-hati terlena dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Anginnya dijamin bakal menghipnotis kamu untuk males-malesan hingga berjam-jam.
  • Sorenya kamu bisa main ke Campuhan Ridge Walk untuk jalan-jalan sore sambil melihat semburat matahari tenggelam. Jangan lupa untuk membawa Autan atau penangkal nyamuk lainnya. Karena disini nyamuknya ganas-ganas menjelang sore.
  • Pilihan lainnya kalau tak mau ke Campuhan Ridge Walk, kamu bisa bersantai di Cafe Green Kubu, balik lagi ke arah Tegalalang. Disini kamu bisa sambil icip-icip makanan karena terbilang murah.
  • Kurang malas apa coba?

Tegalalang Ubud dying pose

Nah, kalau kamu kayak saya yang keburu kecewa dengan stereotip dengan tempat mainstream yang sudah turistik banget seperti Tegalalang ini, coba deh datangnya pagi-pagi banget sebelum sinar matahari pagi datang.

Gimana menurut kamu? Ada yang sudah pernah ke Tegalalang, atau Campuhan Ridge Walk? Kece ga? Atau sudah mencoba makanan di Kedai D’Sawah? Atau mungkin kamu punya rekomendasi tempat di Ubud yang kamu suka?

Kasih komentar di bawah ya! (udah cem youtube ajaaaa bang)

Photo by: Me, Shu, and Satya.

About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

Related Posts

8 Responses
  1. Tegalalang emang udah jadi tempat mainstream banget yak terutama buat para fotografer… tapi emang foto-foto pagi-nya ajib sih di sana… Weh tapi kalau 100ribu buat moto sawah doang juga males ah

  2. sudah beberapa kali ke Ubud belum juga awak sampai ke Tegalalang, sedih kali rupanya, hahaha.
    ke Campuhan juga baru sekali kemarin itu, karena datang pas mendung jadi kayak biasa banget tempatnya, mungkin pas sunset memang sebagus itu yaaa.

    1. Artinya harus datang lagi tok…datangnya bulan-bulan sekarang ini.. Kau cocok deh disana buat foto2 syantik.. campuhan mah biasa sih tok, nyamuk yg banyak jadi bikin kesel

Leave a Reply

%d bloggers like this: