Menilik Keindahan dari Monumen Trikora Pesona Sejarah Kota Bitung

Terakhir kali saya membaca tentang Operasi Trikora adalah saat masih berada dibangku sekolah. Yes, itu sudah lama sekali. Mungkin sekitar 20 tahun yang lalu saat masih unyu-unyu menghafalkan peristiwa-peristiwa sejarah. Jadi, saat mengunjungi Monumen Trikora di Pulau Lembeh Bitung kemarin saya merasa balik lagi ke jaman itu.

Saya sendiri tak tahu banyak tentang peristiwa yang menjadi sejarah penting bagi Indonesia itu. Hanya sekilas. Inti yang saya ketahui hanya operasi Trikora merupakan perang melawan Belanda yang digagas oleh Presiden Soekarno demi pembebasan Irian Barat (sekarang Papua) masuk ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

 

Sejarah Operasi Trikora

Biar pada ingat cerita tentang operasi Trikora ini. Saya mau cerita sedikit tentang sejarah operasi trikora dulu ya.

Sejarah dimulainya operasi Trikora (Tri Komando Rakyat) saat pemerintah Belanda masih mengganggap wilayah barat Papua masih menjadi bagian wilayahnya. Kemudian, pemerintah Belanda ingin sesegera mungkin menjadikan Papua menjadi sebuah negara merdeka. Hal inilah yang tidak diterima oleh Presiden Soekarno.

Dari beberapa perundingan yang digelar tak kunjung membuahkan hasil. Presiden Soekarno kemudian menyiapkan sebuah operasi militer untuk membebaskan Irian Barat dan bergabung dengan NKRI.




Dalam pidatonya saat mengumumkan operasi tersebut, Presiden Soekarno menyebutkan Tri Komando Rakyat atau Trikora yang kemudian menjadi nama operasi tersebut, Operasi Trikora. Adapun isi trikora yang terkenal itu bisa kita ingat-ingat kembali berikut (siapa tahu banyak yang lupa seperti saya):

  1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda.
  2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, tanah air Indonesia.
  3. Bersiaplah mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Bikin merinding ya kala itu.

Nah, saat operasi digelar, Kota Bitung inilah yang menjadi lokasi pendaratan pertama sebelum menjalankan misi pembebasan Irian Jaya. Sehingga diawal tahun 80-an, walikota yang saat itu menjabat mendirikan Monumen Trikora ini untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut.

 

Perjalanan ke Monumen Trikora

Perjalanan ke Pulau Lembeh
OTW ke Monumen Trikora di Pulau Lembeh

Di hari kedua Festival Pesona Selat Lembeh, itinerary kami adalah island hopping di Selat Lembeh. Namun sebelumnya kami akan mengunjungi Tugu Trikora terlebih dahulu.

Tonton video Festival Pesona Selat Lembeh disini.

Monumen Trikora ini berada di Pulau Lembeh. Pulau Lembeh dan Kota Bitung dipisahkan oleh Selat Lembeh sehingga tak ada ombak disini. Jaraknya pun sangat dekat, cukup hanya 15 menit menggunakan perahu motor kita sudah sampai ditempat ini. Karena jaraknya yang pendek, dari pelabuhan kita sudah bisa melihat bangunannya yang cukup menonjol.

Oh ya, rencananya tahun depan, Festival Pesona Selat Lembeh diadakan ditempat ini, di Monumen Trikora yang bersejarah.

Sebuah patung Tangkasi atau yang lebih dikenal dengan Tarsius, hewan endemik yang menjadi salah satu ikon Kota Bitung menyambut kami. Sayangnya, banyak tangan-tangan jahil nan alay yang melakukan corat-coret dipatung ini. Cape deeeeh!!

Patung Tarsius di Monumen Trikora
Patung Tarsius persis di depan Monumen Trikora

Sementara itu, bangunan utama Monumen Trikora berada tepat dibelakangnya. Bangunan yang menjadi simbol sejarah ini berdiri dengan gagahnya dihadapan saya.

Puluhan anak tangga harus kita naiki hingga menuju lambang negara kita, Garuda Pancasila, menggantung pada sebuah menara yang menjulang tinggi menghadap Kota Bitung. Sejenak saya diam kemudian browsing mengingat kembali peristiwa-peristiwa sejarah yang biasanya cuma dihafalkan kala ujian menjelang.

Monumen Trikora Pulau Lembeh
Monumen Trikora di Pulau Lembeh

Persis disebelah bangunan monumen Trikora ini terdapat sebuah pesawat TNI AU DC-3 yang menjadi saksi bisu Operasi Trikora kala itu. Ya, pesawat tersebut digunakan saat melakukan penyerangan. Sayangnya, tempat ini sudah sangat tidak terawat.

Informasi yang saya dapat dari orang lokal dan tentunya hasil pencarian di Om Google perihal tempat ini, dulunya pesawat ini masih utuh saat pertama kali ditempatkan. Namun, karena kurang dijaga dan dirawat dengan baik sehingga banyak terjadi pencurian. Lambat laun pesawat bersejarah ini beneran menjadi bangkai pesawat saja.

Karena tidak ada tanda larangan dan Bang Bobby yang memandu kami pun mengatakan pesawat tersebut bisa dinaiki, Saya dan teman-teman pun sempat naik ke atas dan masuk ke dalam pesawat itu.

Benar saja. Bagian dalam pesawat sudah tinggal kerangkanya saja. Begitu pun kokpitnya. Jendela sudah bolong dimana-mana.

View Kota Bitung dari Monumen Trikora
Diujung sayap bangkai pesawat PD
Pemandangan dari Monumen Trikora
Pemandangan dari Monumen Trikora ini cakep pisan euy, mengarah ke Kota Bitung dan Gunung Dua Saudara

 

Pemandangan dari Monumen Trikora

Asiknya ditempat ini, kita bisa melihat langsung ke Kota Bitung yang ada diseberangnya. Pemandangan menarik melihat gagahnya Gunung Klabat dan melihat aktivitas kapal yang datang silih berganti. Instagramable banget deh pokoknya.

Kota Bitung dari Pulau Lembeh
Pemandangan pelabuhan Kota Bitung dari Pulau Lembeh

Hujan yang mulai turun diatas Monumen Trikora seolah menjadi batas waktu kami ditempat ini. Padahal saya pengen lebih lama lagi melihat pemandangan dari Tugu Trikora ini.

Kami pun melanjutkan perjalanan untuk island hopping disekitaran Selat Lembeh.

Mari jo kita ke Kota Bitung! Cek juga wisata di Sulawesi lainnya.



About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

16 Responses
  1. Sayang sekali kalau peninggalan penuh sejarah itu tak terawat. Tapi di Indonesia hal itu terjadi di mana-mana, bahkan di Jakarta, jadi agak bingung juga bagaimana kita mesti mengetuk hati semua orang untuk sedikit lebih peduli. Padahal tempatnya sangat bagus dan pemandangannya indah. Satu yang saya suka dari pemandangan di Indonesia bagian timur adalah kejernihannya–agak susah saya temui di Indonesia bagian barat. Entah, mungkin ini hanya sugesti, haha.

    1. Setuju sih mas Gara. Merasa sayang dan miris banget waktu berkunjung kesini. Moga-moga sih dengan bangkitnya pariwisata disana. Makin banyak yang peduli. Ga tau juga sih itu kenapa mas gara, saya pun setuju kalo Indonesia Timur itu cantik-cantik banget.

Leave a Reply