Mengunjungi Taman Nasional Baluran, Lebih Cakep di Pagi Hari Saja!

Mengunjungi Kota Banyuwangi sebenarnya tak ada dipikiran saya selama ini, padahal jarak antara Ubud—Banyuwangi tak begitu jauh. Cukup berkendara sekitar 5 jam saja.

Wisata Banyuwangi ternyata memiliki pesona yang tak boleh dilewatkan. Ada banyak tempat wisata di Banyuwangi yang begitu menarik. Sebut saja Kawah Ijen yang sudah kesohor di dunia, atau Taman Nasional Baluran.

Entahlah, kenapa saya selalu baru tersadar setelah sekian tahun tinggal di Bali.

Adalah Fahmi, rekan travel blogger saya—Catperku.com—yang kemudian mengajak saya sebagai travel partner-nya dalam sebuah kompetisi. Tujuan awal sebenarnya adalah menjelajah Bali Utara hingga ke Bali Timur.

“Okay, Gw bisa! Nanti pas selesai, pulangnya kita bareng, Gw mau motoran ke Jawa”, jawab saya di obrolan singkat itu.

Melihat minat saya yang akan menjelajah beberapa kota di Pulau Jawa, Fahmi pun kemudian mengusulkan mengganti destinasi menjadi Banyuwangi. Saya sepakat, kami pun berjanji ketemu di Kota Banyuwangi.

 

Penyeberangan dari Bali ke Banyuwangi

Sekitar pukul 7.30 pagi, setelah menyantap sarapan Nasi Campur di tempat langganan di Ubud, Saya kemudian memacu motor menuju Pelabuhan Gilimanuk selama hampir 4 jam. Jalanan menuju Gilimanuk terbilang sepi setelah Tabanan.

Saya memperlambat laju motor hanya saat melihat pemandangan hijau persawahan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Terakhir ke daerah Bali Barat mungkin tahun 2018 lalu saat mengunjungi Taman Nasional Bali Barat.

Saya pun tak terburu-buru, karena penyeberangan dari Bali ke Banyuwangi sangat banyak, dengan durasi sekitar 30-45 menit tergantung ombak. Bila ombak besar, waktu tempuh ferry bisa 1 jam lebih.

Satu catatan di pelabuhan Gilimanuk ini hanya sistem pembayarannya saja. Saya sangat setuju di pelabuhan ini sudah menerapkan cashless, namun hanya untuk kartu pembayaran keluaran pemerintah saja. Tidak menerima bank swasta.

Jadilah saya harus membeli lagi kartu e-money keluaran Bank Mandiri. Entahlah ini demi sinergi BUMN atau hanya praktik cuanista demi keuntungan semata dengan menjual kartu.

 

Mengunjungi Taman Nasional Baluran Pagi Hari

Setelah tiba di Banyuwangi, check-in dan menitipkan barang di Hotel Santika Banyuwangi, menjelang sore kami menuju Taman Nasional Baluran. Sekitar 1.5 jam dari Hotel Santika Banyuwangi.

Di pintu masuk Taman Nasional Baluran, kami ditolak masuk, karena sudah melewati waktu kunjungan. Kami tiba sekitar pukul 16.15. Kata petugas jaga disana, waktu kunjungan terakhir pukul 16:00.

Bujuk rayu, muka memelas kecapean motoran tak mempan meluluhkan hati petugas jaga waktu itu. Seorang rekannya kemudian menyarankan kami agar datang pagi hari saat sunrise saja.

Petugas jaga tadi pun mengaminkan karena sunrise di Taman Nasional Baluran itu sangat Cantik. Ia akan mengijinkan kami masuk pukul 5 pagi dengan terlebih dahulu mendaftar sore itu. Cukup dengan foto KTP salah seorang dari kami.

 

Sunrise di Pantai Bama

Sebagai seorang traveler, tak jarang memang kita menjumpai momen-momen seperti di atas di beberapa tempat yang kita kunjungi. Misalnya, terlambat beberapa menit dan ditolak masuk, padahal jalannya kesana membutuhkan waktu 3 jam PP, atau momen-momen lainnya.

Walau harus berangkat subuh pukul 3:30, Saya dan Fahmi pun bersyukur dengan kejadian kemarin sore itu.

Matahari terbit di Pantai Bama benar-benar cantik pagi itu.

Sunrise Pantai Bama
Matahari pagi di Pantai Bama.

Rasa lelah motoran kesana kemari, bolak-balik sekian jam, seolah terbayar dengan suasana menjelang pagi waktu itu. Di kesunyian pagi, Saya hanya duduk selonjoran di sebuah batang kayu dengan alunan ringan ombak.

Saya bahagia, menikmati kesederhanaan pagi itu.

Drone Pantai Bama Taman Nasional Baluran
Pemandangan Pantai Bama dan Taman Nasional Baluran.
Drone by: Fahmi/Catperku.com

 

Sepi, Cerah dan Langit Biru di Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran pagi itu rasanya jadi milik sendiri. Sepi dari orang-orang. Rasanya kayak Crazy Rich yang punya halaman belakang.

Seperti Mestakung—Semesta Mendukung—tentunya selain sepi, cuaca pagi itu sangat cerah dengan langit biru yang bersih.

Dari Pantai Bama kami melajukan motor perlahan dan berhenti mematikan mesin saat melihat kerumunan hewan-hewan yang menghuni Taman Nasional Baluran. Beberapa yang sempat kami lihat pagi itu, adalah kerumunan monyet, rusa dan burung Merak.

***

Mampir di Watudodol, Melihat Bali dari Kejauhan

Nah, tempat lain yang bisa kamu kunjungi sekaligus adalah Watudodol, karena jalurnya searah.

Watudodol ini hanya satu spot dipinggir jalan utama saja. Dari sini kita bisa melihat langsung Pulau Bali. Dua kali mengunjungi Taman Nasional Baluran, dua kali pula kami mampir di tempat ini, hanya untuk istirahat sebentar saja.

 

Penginapan di Baluran

Hari itu kami begitu puas menikmati kesunyian Taman Nasional Baluran. Mulai dari pukul 4.30 subuh hingga pukul 8 pagi. Nah, buat kamu yang pengen banget menikmati matahari terbit di Pantai Bama, sudah tersedia penginapan di Baluran.

Saat di Pantai Bama, saya melihat ada beberapa rumah kayu, dan fasilitas-fasilitas pendukungnya pun sudah lengkap. Seperti, musholla, kamar mandi, dan kantin.

Mohon maaf, saya tak tahu berapa tarif yang dikenakan. Mungkin ada teman-teman yang sudah pernah, boleh kasih infonya di kolom komentar, yes!

Penginapan di Baluran

 

Hotel Santika Banyuwangi

Selain itu, kamu juga bisa memilih menginap di Kota Banyuwangi, karena jaraknya hanya sekitar 1.5 jam perjalanan saja, jadi bisa one day trip. Selama di Banyuwangi kemarin, kami menginap di Hotel Santika Banyuwangi. Saya pikir ga perlu pembahasan khusus, ya, karena siapa yang tidak tahu manajemen sekelas Santika Hotels.

Silahkan cek update harga Hotel Santika Banyuwangi.

Tips yang selalu saya berikan untuk mendapatkan harga hotel terbaik adalah dengan membandingkan harga direct booking melalui websitenya, atau aplikasi booking hotel lainnya.

***

BTW, kalau kamu pengen menikmati sunrise, mungkin kamu bisa mendaftar dulu sorenya seperti yang kami lakukan. Karena petugas sore dan yang jaga malam itu berbeda. Petugas jaga malam waktu itu, sudah notice dengan kedatangan kami dan memberikan sejumlah uang (tiket dua orang dan tips).

Saya tak tahu apakah bisa datang on the spot karena counter tiket belum buka.

Pokokmen, Taman Nasional Baluran ini wajib banget kamu kunjungi, deh, at least sekali seumur hidup. Virustraveling aja siap dying alias nyungsep disini.

Virustraveling Dying di Baluran
I’m dying in Baluran.

Semoga cerita perjalanan saya ini bermanfaat.

Selamat berlibur! Enjoy, ya!

About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.
4 Responses
  1. Salah satu impian!!!! Pengen banget ke taman nasional yang dengan mudah bisa liat satwa2 liar kek gini. Sayang gak sempet ketemu macan tutul ya bangbro.. Ntar ah nunggu nuntasin provinsi lain dulu baru deh ke sini 😀

    -Traveler Paruh Waktu

Leave a Reply