Pemandangan dari Jiuqudong Tunnel Taroko Gorge

Muter-muter Taroko Gorge National Park Taiwan

Taman Nasional Taroko Gorge yang terletak di Kota Hualien, Taiwan, menjadi salah satu highlight saya waktu jalan-jalan ke Taiwan kemaren yang harus saya kunjungi. Tapi karena sudah masuk musim dingin dan cuaca disini hampir tiap hari mendung, saya harus menunggu hampir seminggu. Awalnya saya hanya memesan hostel dua malam saja, kemudian diperpanjang terus sambil menunggu cuaca cerah.

Baca juga: Mengurus Visa Taiwan

Selama seminggu di Hualien, saya ga ngapa-ngapain. Hanya jalan disekitar tempat penginapan mencari tempat makan yang pas dilidah saya dan tentunya murah meriah atau ke mengunjungi night market selepas Velyz (littlenomadid) menyelesaikan tugas sebagai sukarelawan di hostel tempat kami menginap.

Tak banyak atraksi menarik yang bisa kami kunjungi di Kota Hualien ini. Jalan tak begitu padat, dan cukup banyak bangunan kosong yang ditinggal pemiliknya. Salah seorang tamu yang saya tepe-tepe di hostel tempat saya menginap, Ming Chun, mahasiswi dari Taipei, bercerita katanya dulu disini ramai. Banyak tamu dari China daratan yang berkunjung. Namun, setelah ganti presiden, somehow warga China cukup sulit untuk liburan kesini.

***

Malam sebelumnya, ditengah obrolan saya dan Velyz, sepasang traveler asal Canada (saya lupa namanya haha) dan Olivia asal UK, mengajak kami ngobrol. Mereka juga volunteer yang bekerja di hostel bersama Velyz. Ada banyak traveler yang menjadi volunteer (bekerja paruh waktu) disini. Mulai dari resepsionis, bersih-bersih sampai mengurus laundrian.

Bertiga, mereka ingin mengajak saya share cost ke Taroko Gorge esok harinya dengan menyewa motor. Perkiraan cuaca besok bakal cerah seharian. Awalnya saya dan velyz akan pergi, namun karena jam kerjanya yang tidak cocok dan tidak bisa libur hari itu, saya pun mengiyakan ajakan mereka.

BTW, tips saat cuaca yang ga menentu saat traveling, sering-seringlah menggunakan situs accuweather. Apalagi buat saya yang sekalian ingin mengambil konten gambar. Cukup membantu dan selama ini prakiraan cuaca diaplikasi ini cukup tepat koq. Saya juga melihat cuaca melalui aplikasi ini saat akan mengunjungi Yehliu Geopark.

Akhirnya malam itu saya harus mempercepat jam tidur agar ga kesiangan bangun esok paginya.

 

Menyewa Motor di Hualien tanpa SIM

Ternyata, untuk menyewa motor di Hualien itu cukup susah. Dari beberapa tempat yang kami datangi, selalu meminta ditunjukkan SIM lokal. Seorang teman saya yang memiliki SIM Internasional pun tak diterima. Akhirnya, setelah tanya sana tanya sini, kami menemukan sebuah tempat sewa motor dengan menitipkan passport sebagai jaminan.

Sewa Motor ke Taroko Gorge
Sewa Motor Keliling ke Taroko Gorge

Lokasinya persisi di seberang Fantasy Apartment. Cek Google Maps untuk melihat lokasi penyewaan motor di Hualien.

Pengurusannya pun ga ribet. Kita disuruh tanda tangan, menitipkan passport dan membayar biaya sewa motor. Pemiliknya menjelaskan beberapa aturan-aturan berkendara di Hualien ini. Selain aturan-aturan yang jamak saya ketahui, disini kita ga boleh parkir sembarangan apalagi di badan jalan dengan cat merah. Kecepatan pun tak boleh lebih dari 60km/jam. Hanya, saya tinggal menyesuaikan berkendara disisi kanan jalan.

BTW, harga sewa motornya NTD500 (atau sekitar Rp 112.500 dengan kurs 450), dengan durasi sekitar 12 jam. Harga bensin sekitar NTD85. Saya share cost dengan Olivia sehingga jadi lebih murah.

Bagi yang tidak bisa bawa motor, sebenarnya ada shuttle bus menuju Taroko Gorge National Park ini. Kita bisa start dari halte awal yang terletak di Stasiun Kereta Api Hualien. Kekurangannya, jadi ga bebas muter-muter karena bus sudah memiliki rute-rute tertentu ke area turistik saja.

Berkendara di Hualien yang termasuk sepi ini cukup seru. Jalanan menuju Taroko Gorge ini bersih, lebar-lebar, udara pun masih sejuk dan pemandangan lansekapnya berupa bukit-bukit dan laut. Inilah alasan saya menyukai Taiwan. Kita berjalan dengan dua pemandangan ini sekaligus.

Jalanan di Hualien menuju Taroko Gorge
Jalanan di Hualien menuju Taroko Gorge. Sebelah kanannya laut

Dari Hualien kami hanya berkendara motor kurang lebih 1 jam bermodalkan petunjuk jalan yang tampak jelas disisi jalan dan tentunya pakai Google Maps. Meski masih pagi, tampak bus-bus besar yang membawa rombongan turis tiba di Arch of Taroko, pintu gerbang Taman Nasional Taroko ini. Pun begitu dengan kami yang menyempatkan foto ala kadarnya didepan pintu gerbang yang tak sebanding dengan ruas jalan yang ada. Mungkin jalannya diperlebar namun tak ingin membangun ulang gapura yang sudah menjadi ikon pintu gerbang taman nasional ini.

Arch of Taroko Pintu Gerbang Taroko Gorge
Arch of Taroko Pintu Gerbang Taroko Gorge

Ga jauh darisitu, kami mengarahkan motor kami menuju Tourist Center untuk mengambil beberapa peta dan merencanakan spot-spot yang akan dikunjungi. Lebih tepatnya ketiga teman saya. Saya? Ya tinggal ngikutin dan ngegojekin neng Olivia saja.

Sekitar pukul 10 pagi kami sudah mulai menjelajahi taman nasional Taroko Gorge ini. Udaranya segar namun masih cukup dingin begitu masuk area taman nasional. Apalagi berkendara dengan kaos oblong dibeberapa area taman nasional yang kurang mendapat sinar matahari.

 

Keliling Taroko Gorge National Park

Menyewa Motor ke Taroko Gorge National Park
Ngegojekin Olivia ke Taroko Gorge National Park

Saya luar biasa kagum sama taman nasional ini. Mata saya benar-benar dimanjakan banget dengan pemandangan alaminya. Aliran sungai dengan batu-batu besar yang sudah ribuan tahun, dan tebing-tebing yang menjulang tinggi. Sesekali tampak dari kejauhan air terjun kecil didinding tebing.

Kemudian menyesal jadi kang gojek saja. Pengen rasanya memotret setiap sisinya. Hari itu kami berkeliling hanya ke beberapa tempat saja. Tak cukup sehari saja.

 

Changchun (Eternal Spring Shrine)

Ini adalah pemberhentian pertama kami. Belum tampak keramaian diparkiran yang telah disediakan. Hanya motor kami dan 2 bus besar yang mengangkut rombongan. Salah satunya rombongan dari Surabaya.

Rencananya, kami ingin trekking hingga ke Eternal Spring Shrine. Namun, begitu kami tiba dipintu kecilnya, terlihat tanda ditutup sementara waktu.

Changchun Temple Tampak di Kejauhan
Changchun Temple tampak di Kejauhan
Jembatan Merah dekat Changchun Eternal Spring Taroko
Jembatan Merah dekat Changchun Eternal Spring Taroko

 

Kuil Changuang Temple

Ga jauh dari Eternal Spring Shrine, kami berkendara beberapa menit menuju Changuang Temple. Tujuannya bukan ke kuil Changuang ini, tapi keatasnya lagi untuk melihat beberapa spot dari ketinggian.

Jembatan Gantung menuju kuil Changuang
Ada banyak jembatan gantung di Taroko Gorge

Disebelah kuil, terdapat jembatan gantung dan trek dengan anak-anak tangga yang cukup lebar.

“Duh, trekking nih”, batin saya mengeluh.

Sumpah, sebelnya jalan sama teman-teman saya ini, mereka kaki dan nafasnya kuat, dan jalannya cepat-cepat banget. Sementara saya yang jompo ini selalu ketinggalan dibelakang.

Dengan alasan masih foto-foto, saya menyuruh mereka jalan duluan dan tidak memperdulikan saya. Aslinya mah semaput.

Nah, gini pemandangan dari atas. Betah banget deh lama-lama disini.

Pemandangan dari atas Kuil Changuang Taroko
Pemandangan dari atas
View Taroko Gorge dan Changuang Temple
View Taroko Gorge dan Changuang Temple
Sepatu Gunung Kalibre di Taroko Gorge
Sepatu Gunung Kalibre

 

Jiuqudong Tunnel

Nah, Jiuqudong Tunnel ini menjadi salah satu pusat atraksi yang patut dilihat lebih dekat. Keunikannya, terdapat batu-batu berlubang yang cukup besar. Mungkin seukuran bus saja. Itupun tipis sekali. Saya sempat memperhatikan gimana hebatnya supir-supir bus melewati jalanan seperti ini. Badan bus hanya tersisa beberapa senti saja dengan dinding tebing.

Pengunjung yang membawa kendaraan tak diperbolehkan berhenti disini. Kami harus memarkirkan motor kami disebuah rest area yang terdapat diujung jalan dan kemudian berjalan lagi kearah tunnel. Disisi jalan, apalagi klo bukan jurang yang terjal dengan aliran sungai dibawahnya.

Pemandangan dari Jiuqudong Tunnel Taroko Gorge
Pemandangan dari Jiuqudong Tunnel Taroko Gorge
Aliran Sungai disisi Jiuqudong Tunnel Taroko Gorge
Aliran Sungai disisi Jiuqudong Tunnel Taroko Gorge
Bebatuan Raksasa di Aliran Sungai Taroko Gorge
Bebatuan di Aliran Sungai Taroko Gorge ini gede-gede banget
Menyusuri Sisi Jiuqudong Tunnel
Menyusuri Sisi Jiuqudong Tunnel

 

Zhuilu Tunnel

Kenapa saya highlight tunnel ini? Biasanya bus-bus akan memutar diarea sini setelah lewat Jiuqudong Tunnel (sebelum Zhuilu Tunnel). Bisa kebayangkan gimana supir-supir bus pariwisata disini memutar bus di dua ruas jalan saja dan kemudian masuk ke tunnel lagi (tunnel masuk dan keluar berbeda).

Selain itu, kami harus mengantri cukup lama untuk melewati Zhuilu Tunnel dan melanjutkan kearea lebih jauh. Hampir disepanjang jalan sedang banyak pembangunan. Entah itu jembatan, tunnel atau pun untuk menutup (memasang jaring-jaring) agar batu-batu dari atas tidak jatuh ke bagian badan jalan.

Nah, Zhuilu Tunnel ini bukan tunnel hasil bor mesin seperti membuat MRT Jakarta. Tapi berupa jalan yang dikasih ‘atap penyangga’ berupa beton. Kemudian di desain agar kelihatan natural dan menyatu dengan tebing. Ini dilakukan karena tingginya tingkat bebatuan yang longsor ke sungai dibawahnya.

 

Wenshan Hot Spring

Wenshan Hot Spring menjadi ujung perjalanan kami di Taman Nasional Taroko Gorge. Selain trekking menuruni anak tangga, sebuah hot spring sudah menunggu kami dibawah.

Awalnya agak sulit menemukan papan nama dan pintu masuk ke Wenshan Hot Spring ini. Kami harus muter bolak-balik mencari papan nama yang ternyata berada persis disamping Taishan Tunnel. Kami hanya memarkirkan kendaraan dipinggir tunnel dan kemudian turun kebawah mengikuti anak tangga yang ada.

Mendekati hot spring anak tangga semakin kecil dan licin saja, karena basah dari air yang keluar dari dinding-dinding tebing. Meski sudah menggunakan sepatu gunung dari Kalibre, saya tetap harus extra hati-hati.

Tangga menuju Wenshan Hot Spring yang licin banget
Tangga menuju Wenshan Hot Spring yang licin banget
Sepatu Gunung Kalibre yang saya pakai selama traveling di Taiwan
Sepatu Gunung Kalibre yang saya pakai selama traveling di Taiwan

Dibawah, ternyata sudah ada beberapa turis yang sedang duduk dipinggiran sungai menikmati hot spring. Selain itu, tampak juga yang beberapa orang duduk-duduk didalam goa kecil dimana sumber air panas ini berasal dengan muka yang sudah kemerahan.

Wenshan hot spring ini ternyata benaran panas banget. Saya hanya berani untuk duduk-duduk dipinggiran sungai yang sudah ‘disetup’ sedemikian rupa sehingga air panas dari perut bumi ini bercampur dengan dinginnya aliran sungai. Jadi, lumayan adeeeeeem…

Santai di Wenshan Hot Spring Taroko Gorge
Santai di Wenshan Hot Spring Taroko Gorge
Olivia di Wenshan Hot Spring Taroko Gorge
Olivia di Wenshan Hot Spring Taroko Gorge

 

Qingshui Cliff

Ga terasa emang kalau mengunjungi Taroko National Park ini. Tau-taunya sudah sore saja. Sebelum pulang, kami main dulu ke Qingshui Cliff.

Qingshui Cliff Taroko National Park
Qingshui Cliff Taroko National Park

Qingshui Cliff ini seolah menjadi gambaran saya akan Taiwan. Gunung, kota, kemudian laut. Saya hanya menikmati suasana sore hari dilapangan parkir diatas sementara teman-teman turun ke pantai dibawah.

Intinya Taiwan itu cantik bangetlah. Cek destinasi Taiwan lainnya, deh!

Riding at Taroko Gorge Taiwan
Gantian gojekinnya
About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.
14 Responses
  1. SPBU banyak tersedia gak mas di sepanjang perjalanan? Apa motornya sudah diisi full bahan bakar oleh rentalnya? Eh, atau itu motor listrik? Terus ada batasan waktu gak untuk nyewa motornya? Harganya juga terjangkau kah jika dibandingkan naik shuttle bus misalnya?

    1. Oh iya, belum ta lengkapi itu mas. Ntar saya update. Harus diisi full dulu sih mas, pastinya didalam taman nasional ga ada. Trus itu sekitar 12 jam saja mas. Harganya NTD500 Trus hitungannya pasti lebih murah kalo patungan berdua plus bensin NTD85 belinya di kota Hualien. Cukup banget dari pagi sampe pulangin malam.

  2. Viewnya gila ya, berasa lagi ada di film Jurasic Park. Hahahah.
    Btw, itu kalo saya yang nyewa motor takutnya kalo jalan disebelah kiri karena terbiasa dengan aturan di Indonesia :)))
    Kagok juga sih pasti kalo jalannya di lajur kanan gitu karena gak terbiasa 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: