Trip Perdana ke Tana Toraja




Jam masih menunjukkan pukul 6 sore tapi langit sudah gelap. Senyum saya pun sumringah sesaat setelah pesawat Airbus A320 milik maskapai Citilink yang saya tumpangi dari Jakarta mendarat dengan mulus dibandara Sultan Hasanuddin Makassar. Akhirnya, kesempatan bertandang ke Tana Toraja pun datang diakhir bulan Juni 2015 lalu.

Perjalanan ini merupakan trip perdana saya di pulau Celebes. Masih anak baru. Saya berencana menghabiskan waktu seminggu untuk keliling Sulawesi Selatan mulai dari Makassar, Tana Toraja, hingga Tanjung Bira. Dalam perjalanan kali ini saya sengaja tak menetapkan roster yang ketat seperti anak SD jaman sekarang.

Saya ingin menikmati waktu yang bebas tak harus mengunjungi ini itu, harus berangkat kesana kesini mendapatkan semua objek wisata. Engga! Pokoknya nanti saya putuskan saat itu saja karena saya gampang terpengaruh hehe. Namun yang pasti, malam itu saya akan langsung menuju Tana Toraja.

Perjalanan saya sebenarnya ga sepi-sepi banget. Ada kak Cumilebay si blogger hits ala ala yang congkaknya sampai ke Toraja hanya pengen lihat pasar Bolu dan adu kerbau Toraja (Ma’ Pasilaga Tedong).

Kemudian, ada juga Sefiin dan adiknya, Chika, yang memenangkan tiket gratis dari salah satu online travel agent, kita sebut saja traveloka. Selain itu, sefin juga mengenalkan saya dengan anggota geng yang lain, kak Ayit dari @BugisMksrTrip saat menjemput kami di Bandara *kemudian cipaka cipiki*. Semuanya sudah punya itinerary masing-masing. Saya punya, kak cumi bahkan sudah ada di Toraja, pun demikian dengan geng Sefiin. Kami hanya bertemu dihari ketiga di Kota Makassar.

Travel Blogger Indonesia




Begitu tiba di bandara saya langsung menuju daerah Pantai Losari yang terkenal itu untuk mengisi perut yang sudah mulai meminta untuk diisi kembali. Dari sini saya kemudian pamitan kepada Sefin, Chika dan Kak Ayit untuk melanjutkan perjalanan ke Tana Toraja.

Seorang teman saya, Elvan, yang tinggal dan bekerja disalah satu instansi pemerintah di kota Makassar menjadi bala bantuan saya selanjutnya menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan untuk mencari loket bus Primadona yang akan membawa saya ke Tana Toraja. Dan ternyata Jl. Perintis Kemerdekaan itu panjang banget. Ada 3 kali kami berhenti untuk menanyakan posisi loket bus tersebut. Meski sebelumnya saya sudah booking (via telepon) sejak dari Jakarta dan meminta ditunggu, tapi tetap saja saya was-was ketinggalan bus. Karena dari informasi yang saya tahu, bus-bus tersebut selalu ontime.

Untungnya, pukul sembilan malam kurang sedikit, saya pun tiba diloket bus Primadona. Benar saja, tinggal saya si penumpang no. 29 yang belum hadir sementara yang lain sudah berada didalam bus (meski nyatanya bus baru berangkat pukul 21:30). Saya pun buru-buru ke loket untuk melakukan pembayaran tiket kelas ekonomi seharga Rp 130.000.

Sebenarnya pilihan bus tujuan Makassar ke Toraja itu cukup banyak, bagus-bagus dan keren-keren, lho.

Seperti bus Primadona yang saya tumpangi ini, jenis busnya menggunakan Jetbus HD. Kalau bus ini umumnya disetting memiliki 45-54 tempat duduk, tapi disini dibuat menjadi 2-2 seater (sebaris) dengan jumlah tempat duduk 30 sehingga lebih lebar dan nyaman.

Bus Makassar Toraja
Bus Makassar Toraja yang saya tumpangi

Rata-rata semua bus baru atau seenggaknya ga tua-tua bangetlah. Kalau (katanya) di Jakarta, hanya Transjakarta saja yang menggunakan bus Scania yang (katanya lagi) senyaman sedan itu, nah disini operator bus Makassar-Tana Toraja sudah lebih dulu menggunakannya. Biasanya bus-bus tersebut dipakai untuk kelas premium diharga 200.000. Saya jadi teringat dengan bus eksekutif saat melakukan perjalanan menuju Singapore ke Malaysia yang dibuat 1-2 seater dalam satu baris dan dipatok harga sekitar 250ribuan.

 

Menjejakkan Kaki di Tana Toraja

Malam itu bus berjalan cukup lambat. Sepuluh jam perjalanan. Padahal dari info yang saya dapat, lama perjalanan dari Makassar ke Toraja dapat ditempuh dalam 8 jam perjalanan menggunakan bus. Mungkin ini alasan teman saya itu menyarankan menggunakan bus selain Primadona.

Sekitar pukul 6 pagi, gawai saya berbunyi. Sebuah pesan singkat whatsapp dari Kak Cumi yang bertanya tentang posisi saya saat itu.

“Masih di Makale, Kak”, jawab saya singkat.

Sehari sebelumnya Kak Cumi sudah tiba di Toraja. Ia sudah sering traveling ke Toraja. Kali ini Ia hanya pengen melihat-lihat aktivitas di Pasar Bolu yang menjadi incarannya sejak lama

Makale masih sekitar kurang 1 jam lagi menuju Rantepao yang menjadi tempat pemberhentian terakhir bus. Rantepao, adalah ibukota kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan sebuah kota kecil yang memiliki segudang pesona alam dan budaya yang memikat. Pagi itu mas cumi menjemput saya di loket bus Primadona dan dengan senang hati membawa saya keliling Tana Toraja. Horeee…!

 

Kuburan Tebing Batu Lemo

Di Rantepao, kami menginap di Wisma Maria 1 yang terletak di Jalan Dr. Sam Ratulangi. Wisma Maria 1 (ada dua Wisma Maria) ini ternyata salah satu penginapan murah di Toraja yang direkomendasikan oleh Lonely Planet. Pantas cukup banyak bule-bule saya temui di wisma ini.

Setelah meletakkan tas ransel dan hanya membawa kamera, kami kemudian berangkat menuju Desa Lemo yang berjarak sekitar 9 km disebelah selatan Rantepao. Di Desa Lemo ini terdapat sebuah ‘komplek’ kuburan yang dipahat diatas tebing batu dan dipercaya sudah ada sejak abad ke-16.

Setiap pengunjung akan dikenakan biaya masuk sebesar Rp 10.000,-.

Desa Lemo Tana Toraja
Salah satu lokasi kuburan tebing di Tana Toraja ada di Desa Lemo.
Kuburan Lemo Tana Toraja
Kuburan Tebing di Desa Lemo Tana Toraja

 

Tana Toraja terkenal akan tradisi unik menyimpan mayat di dalam rumah. Orang yang telah meninggal belum dapat dikatakan mati tapi hanya sakit sebelum dilaksanakan upacara pemakaman yang disebut Rambu Solo dan dimakamkan ditempat yang layak yaitu di tebing.

Karena biayanya mahal hingga miliaran rupiah, maka keluarga akan menyimpan mayat itu didalam rumahnya. Dan ini bisa berlangsung bertahun-tahun hingga dananya terkumpul.

Seorang bapak yang kami temui disana mengatakan kalau ibunya yang telah meninggal diawal tahun kemarin masih ada di rumahnya. Upacara Rambu Solo baru akan dilaksanakan di Bulan Desember 2016.

“Mau lihat?”, kata bapak itu seraya menawari kami.
“Apaaa?? Masih 1.5 tahun lagi dikuburnya? Makasih pak. Ga usah”, jawab saya meski tersimpan rasa penasaran untuk melihatnya.

Sebenarnya tak ada waktu yang pasti berapa lama harus menyimpan jenazah orang tuanya. Semakin cepat semakin baik. Ini lebih kepada perlakuan untuk orang yang telah mati (aluk to mate). Kemudian saya berpikir, mungkin upacara Rambu Solo untuk ibunya dilakukan tahun depan bertepatan dengan Event Lovely Desember yang tiap tahun diadakan oleh Pemerintah Daerah setempat.

Bersambung ke bagian 2

Cek destinasi wisata lain di Sulawesi yang tak kalah menarik.



About the author

Travel Blogger, and Entrepreneur.

24 Responses
  1. Waaaah jadi pengin balik ke Toraja lagi. Sudah setahun yang lalu ke sana, tapi belum ditulis. 😛
    Aku tunggu tulisannya soal Tanjung Bira ya..hihihi

  2. Wah primadona 10 jam ya Mas? Rata-rata memang biasanya Makassar-Rantepao 8 jam an normal. Saya dulu naik Liman dari pool Jl. Urip Sumoharjo.

    Hmmm, ga jadi lihat mayat Ibu yang belum dikubur itu pasti takut yaaa? hehehe 😛

    1. Bang ‘taulah tembung. Ga takut sih cuma klo udh merasa aneh2 ya merinding juga hehe. Tapi disana ada keharusan juga untuk segera memakamkan demi menghormati orang tua yg telah meninggal itu. Untuk golongan bawah, bisa babi koq.

  3. prameswari

    Ya… Mupeng.
    Gara gara raung rencana backpack ke tana toraja gagal total.
    Harus reschedule cuti deh..
    Ya sementara blogtravelling dulu…

    1. klo dari makassar, kira2 bus 180rb sekali jalan, penginapan 170rb (ini sharing dg temen), wisata 10-30rb, makan selera masing2, dan bensin mobil. Saya kira cuma itu saja mas 🙂

  4. berarti semua mayatnya diawetkan ya mas.. biar ga membusuk dan bau… ga kebayang aku :D..

    kmarin pas kantor outing ke makasar, krn waktunya mepet, cuma dari jumat malam plg kantor ampe minggu sore doang, jd kitag bisa ke toraja.. aku msh pgn balik lg ksana, dan nanti pasti ngunjungin toraja 😉

Leave a Reply