Camping di Gunung Batur, Trekking via Jalur Culali

Bayangan saya akan durasi trekking dua jam menuju lokasi camping di Gunung Batur ini langsung pupus saat melihat bukit yang menjadi tujuan kami tampak sangat kecil dari lokasi kami memarkir kendaraan, tak jauh dari pintu masuk Black Lava.

Sejak awal saya memang selalu tidak percaya diri dalam hal pendakian gunung, dari dulu hingga sekarang tetap menjadi pendaki pemula cenderung jompo, yang sedikit-sedikit capek, melangkah sebentar lelah, dan begitu seterusnya.

Mendaki Gunung Batur tak hanya sekali-dua kali saya lakoni. Selama tinggal di Bali, mungkin sekitar 4-5 kali naik Gunung Batur untuk sunrise trekking saja. Namun saya belum pernah sekalipun camping di Gunung Batur.

Baca ceritanya disini: Mendaki Gunung Batur, Pemandangannya Bikin Nangis

Kaldera Gunung Batur Bali
Suatu pagi di Gunung Batur

Baru kali ini, tepatnya awal Agustus 2020, masa-masa diberlakukannya new normal, saya ikutan camping.

Adalah Ocit, salah seorang teman travel blogger yang juga tinggal di Ubud, dan teman-temannya yang berencana untuk camping di Gunung Batur. Dalam beberapa bulan terakhir, hampir tiap minggu mereka selalu pergi camping ke beberapa lokasi di Bali. Mulai dari gunung, danau, hingga pantai.

Kali ini saya tergoda untuk ikut camping ke Gunung Batur lewat jalur Culali plus trekking dua jam. Well, maksudnya dua-jam-plus-plus bagi saya hahaha…

***

Sekitar pukul satu siang, dari lokasi meeting point di Coco Mart Tebongkang, rombongan kami pun berangkat ke utara menuju Kintamani melewati jalan Raya Sayan, Kedewatan, dan Jalan Raya Payangan. Jalur ini memang jauh lebih singkat menuju Kintamani ketimbang jalur umum yang melewati Tegalalang dan Tampak Siring.

Di ujung pertigaan jalan, kita tinggal belok kanan dan jalur Culali menuju pos Black Lava sudah berada beberapa meter di depannya.

Dari sini, masing-masing kami harus lebih hati-hati mengendarai motor karena jalurnya terbilang sangat curam. Apalagi jalur ini merupakan jalur truk-truk pengangkut pasir yang bikin makin waspada.

Pos Black Lava Mount Batur
Pintu pos Black Lava Mount Batur

Lokasi Black Lava ini boleh dibilang mirip banget dengan pasir berbisik di Gunung Bromo. Sepanjang mata memandang merupakan lautan pasir yang sangat luas. Cocoklah buat foto-foto. Makanya tak jarang pula orang-orang kesini untuk piknik ala-ala, main layang-layang segede gaban pake tali jemuran, atau ‘main-main pasir’ naik motor trail.

Saya, Ocit, Didi, sudah mulai bergerak duluan. Namun tak butuh waktu lama untuk kemudian disusul teman-teman yang lain. Belum apa-apa saya sudah capek. Melangkah bentar, istirahatnya banyak. Hingga teman-teman yang sudah duluan tampak mengecil dari kejauhan.

Salah satu jalur pendakian via Culali
Jadi barisan paling belakang. Photo by: Ocit

Setelah pendakian ini, sebuah pemandangan yang kerap kita menjadi latar matahari terbit versi Gunung Batur terlihat, penampakan Gunung Abang dan Gunung Agung dikejauhan seolah menambah energi baru.

Gunung Abang dan Gunung Agung dari Batur
Gunung Abang dan Gunung Agung dari Batur

Sudah hampir dua jam, bahkan setengah perjalanan pun belum kami lewati. Sakit di pergelangan kaki, bahu, pinggul sudah tak terkira rasanya bagi pendaki jompo seperti saya. Untungnya Ocit bersedia menjadi skipper menunggu kami yang lelet dan keseringan break ini.

Dari yang bergerak duluan, menjadi yang paling belakang.
Dari estimasi dua jam, hingga hampir total 5 jam pendakian.

Tapi, tanpa drama tak ada cerita yang dibagikan, bukan. hahahaha.

***

Bagi pendaki jompo seperti saya ini, jalur Culali ini mantap banget buat menyiksa saya sepanjang trekking. Mungkin bagian tersulit adalah jalur pendakian yang berbatu dan berpasir yang membuat pendakian makin lama.

Kaki salah berpijak, melorot. Naik dua langkah, melorot selangkah. Kapan sampenyaaa…!

Salah satu medan pasir di Culali Batur
Salah satu medan berpasir

Dari sini, kira-kira masih setengah perjalanan lagi hingga ke lokasi camping kami, sebuah lembah dengan sebidang tanah datar.

Lokasi camping di Batur jalur Culali
Lokasi camping di Batur jalur Culali

 

Puncak Gunung Batur

Subuh pagi itu saya tak ikutan teman-teman yang lain untuk ikut naik ke puncak. Pasalnya saya yang kebetulan manusia nocturnal ini ga bisa tidur karena malam itu udara dingin banget dan berkumandangnya gema ‘paduan suara dengkuran’ bersahut-sahutan dari tenda-tenda sekitar saya sejak tengah malam yang bikin saya gelisah tak bisa menutup mata.

Well, pemandangan matahari terbit dari atas puncak ini sebenarnya sama saja bila dilihat dari pos pendakian umum.

Cakepnya sama, gaes!

Begini kira-kira pemandangan sunrise dari jalur trekking biasa.

Sementara dari puncak tempat kami berkemah.

Pemandangan Sunrise dari Puncak Gunung Batur
Pemandangan sunrise dari lokasi camping di Batur. Photo by: Ocit

Sama, kan!

Nah, kalau kamu tertarik buat menjajal jalur Culali ini, boleh sesekali dicoba!

Travel Blogger, Web Developer, SEO Enthusiast.

Related Posts

Leave a Reply